Rabu, 23 Mei 2012

mulut berapi

bola saksi termangu disinari kebohongan
permainan tulisan berjalan melewati sadarnya daulat
cinta bagi ibu yang tergoda, hilang sejarah panjang
kain aisan yang kusamm terinjak kilapan kulit
rintihan adikku tersapu banyaknya kata yang sama

perih lupa dengan rintih tertunda
semua bersama tanpa genggaman kakeknya buyutku
yang haus untuk anaknya tersenyum
jejaknya bukan lagi tongkat yang kuat

1 komentar:

  1. Puisi yang bagus... saya suka puisi anda, mempunyai unssur estetika yang mendalam. mudah dipahami dan menggelitik hati.

    BalasHapus